menu
Blog

Peran AI dalam Industri Rekrutmen

Blog

|

Dec 25, 2018

AI Recruit

Peran apa yang dimainkan oleh kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) dalam proses rekrutmen? Apakah AI akan menggantikan peran manusia seutuhnya, ataukah mereka akan bekerja secara berdampingan?

Penggunaan AI dalam dunia industri di seluruh dunia merupakan sebuah mimpi yang menjadi kenyataan. Berbagai jenis industri telah mengalami proses transformasi yang cukup signifikan berkat adanya AI, termasuk didalamnya industri rekrutmen.

Pertanyaannya adalah, peran apa yang dijalankan oleh AI dalam proses rekrutmen? Satu hal yang pasti, AI tidak akan menggantikan peran manusia secara keseluruhan. AI akan lebih banyak berperan dalam berbagai jenis pekerjaan yang bersifat berulang dan membosankan, dan bukan pada jenis pekerjaan yang membutuhkan kemampuan inteligensi manusia yang lebih rumit.

Beberapa peran yang akan dimainkan oleh AI dalam industri rekruitmen adalah:

AI dan Natural Language Processing

Proses Pengolahan Bahasa atau Natural Language Processing (NLP) mampu memberikan informasi yang lebih mendalam perihal kepribadian seorang kandidat. Bagaimana caranya? Dengan melakukan analisa terhadap gaya komunikasi kandidat yang merupakan salah satu kunci untuk memahami karakter individu.

AI akan mempergunakan NLP dalam proses rekrutmen untuk menganalisa skill yang dimiliki kandidat berdasarkan gaya bicara dan gaya penulisan, dan kemudian menentukan apakah kandidat tersebut merupakan pilihan yang tepat atau tidak.

AI dalam bentuk chatbot akan memberikan hasil yang serupa. Chatbot yang dipergunakan dalam situs karir sebuah perusahaan akan membantu kandidat dalam mengisi aplikasi pekerjaan. Chatbot ini akan menanyakan berbagai pertanyaan untuk melengkapi kekosongan data di dalam resume, memperjelas informasi yang ada, dan menanyakan berbagai hal lain seputar skill kandidat untuk menentukan apakah kandidat tersebut memiliki semua skill yang dibutuhkan untuk pekerjaan tersebut atau tidak.

AI dan Game Neuroscience

Game neuroscience memiliki kemampuan untuk mendeteksi soft skill yang tidak dapat diungkap dengan berbagai tes rekrutmen lainnya. Sebagai contoh, game neuroscience dapat mendeteksi kesediaan kandidat dalam mengambil resiko, seberapa efektif kemampuan kandidat dalam menggunakan sumber daya yang tersedia disekitarnya, kemampuan strategi, dan lain sebagainya.

AI akan menggunakan game neuroscience sebagai salah satu bentuk tes, melakukan analisa terhadapnya, dan memasukkan hasil analisa tersebut kedalam profil kandidat.

AI dan Data

AI memiliki kemampuan dalam mengumpulkan dan mengolah data. Dalam industri rekrutmen, AI mampu mengumpulkan data mengenai kandidat dari berbagai sumber yang ada, termasuk diantaranya sosial media.

Salah satu contoh kemampuan AI dalam mengumpulkan dan mengolah data dapat ditunjukkan oleh TalentMind. TalentMind adalah sebuah software rekrutmen berbasis AI yang memiliki kemampuan untuk menganalisa akun sosial media setiap kandidat untuk mengumpulkan berbagai informasi seperti tempat tinggal, hobi, hubungan professional, pencapaian dalam dunia kerja, dan berbagai data lain yang dibutuhkan untuk membangun sebuah profil kandidat yang menyeluruh.

Dengan berbagai data yang ada, pihak perekrut akan mampu membangun hubungan pada level emosional dengan para kandidat, sebagai upaya membangun fondasi hubungan kerja yang lebih solid di masa yang akan datang.

AI dan Employee Value Proposition (EVP)

Pihak perekrut yang hanya menggunakan satu jenis EVP atau satu jenis penawaran kepada para kandidat akan menghadapi kesulitan dalam merekrut karyawan. Mengapa? Karena mereka tidak memberikan sebuah penawaran yang menarik dan sesuai dengan kebutuhan masing-masing kandidat.

AI bisa membantu dalam hal ini. AI bisa menganalisa setiap kandidat dan mengembangkan jenis penawaran yang paling tepat untuk setiap orang. Sebagai contoh, pihak perekrut yang akan mengajukan penawaran kerja kepada seorang kandidat yang telah berkeluarga akan disarankan oleh asisten AI mereka untuk berbicara tentang asuransi kesehatan keluarga yang dimiliki oleh perusahaan.

Contoh lain, bila pihak perekrut akan mengajukan penawaran kepada seorang kandidat yang menjalankan gaya hidup sehat, maka sang asisten AI akan menyarankan mereka untuk membahas perihal fasilitas ruang olahraga dan asuransi kesehatan yang dimiliki perusahaan.

Semua hal diatas memperlihatkan dengan jelas bahwa ada beberapa peran perekrut manusia yang akan diambil alih oleh AI, namun sekali lagi perlu ditegaskan bahwa hal ini akan lebih banyak berkaitan dengan tugas yang bersifat berulang dan membosankan. Pihak perekrut manusia akan dihadapkan pada peran lain yang lebih menantang. Terlepas dari peran apapun yang nantinya akan dimainkan oleh AI dalam industri rekrutmen, pihak perekrut harus mempersiapkan diri sejak dini bukan hanya agar mereka mampu beradaptasi dengan perubahan yang ada, namun juga agar mereka mampu menjadi pemimpin dalam industri ini.

More to Read : HR Masa Depan: Adaptasi AI atau Tidak?

Discover the power of TalentMind

Demo Now

keyboard_arrow_right